Sabtu, 21 November 2015

Best Friend Best Love

Ada seorang yang menunggu didepan pintu, tetapi yang ditunggu tidak kunjung membuka pintu, dan ada yang setia menanti di belakang pintu berharap mendengarkan kembali suara panggilan orang yg pergi lalu mengetuk pintu kembali. Sedangkan di pintu yang lain seseorang sedang menunggu dengan gamang berharap seseorang yg menunggu di depan pintu itu berbalik kearahnya. Iya begitulah cerita cinta yang berbeda arah, yang arahnya bercabang, dan tidak dapat di tentukan kemana arah itu akan membawa akhir cerita cinta ini.
Dia seorang teman baik saya, yang entah sejak kapan menaruh hati kepada saya, tapi terlambat mengatakan apa yg sebenarnya ia rasakan.Sebut saja dia Gio. Saya tidak bisa mengatur perasaan agar jatuh hati kepada siapa yang menurut logika dan pandangan semua orang adalah pilihan yang tepat sebagai wanita, saya hanya menuruti naluri dan perasaan saya. Pria itu amat baik bagi sebagian orang atau bahkan sebagian besar orang, saya juga menilainya begitu. Entah bagaimana dia bertemu dengan seorang wanita, dengan kriteria fisik yg "katanya" mirip dengan saya, Hayati namanya.  saya tidak mempermasalahkan hal itu, karena persahabatan kami tetap berlangsung dan saat itu pun saya sudah mempunyai kekasih yang sangat saya sayangi. Permasalahan mulai timbul diantara kami, hayati merasa cemburu terhadap saya karena kami masih berkomunikasi, dan ternyata Gio seringberbohong kepada hayati ketika bertemu dengan saya, saat masalah mulai memuncak, hayati memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka dan menemui saya di rumah kos saya. Sebenarnya saya terkejut dan ingn menolak ketika hayati mengajak bertemu, tapi karena ingn meluruskan masalah kecemburuan yang takutnya menjadi semakin rumit saya memutuskan untuk bersedia di kunjungi di rumah kos saya. Pertemuan kami berlangsung cukup lama, kami banyak bercerita dan saat itu kebetulan saya sedang mengalami kondisi terbutuk di dalam hubungan percintaan, saya di putuskan oleh kekasih saya. Pertemuan itu ternyata akhirnya malah menimbulkan pokok permasalahan yang baru, bukan malah menjadi penyelesaian masalah, hayati salah menyimpulkan percakapan kami, hayati salah menyampaian kepada Gio apa sebenarnya yang terjadi. Saya di pakasa untuk menerima Gio dan mengakui bahwa saya juga mempunyai perasaan yang sama dan hanya saja waktu yang salah itulah katanya, saya sangat bingung, saat itu dia mencerca saya dan berulang kali mengatakan saya munafik, tidak mau mengakui perasaan saya sendiri terhadap Gio. hayati bertindak seolah - olah dia yang peling tahu tentang perasaan saya, hayati marah besar dan berkata tidak baik melaui media sosial, saya merasa sagat terganggu tapi saya mencoba bersabar. apa yang harus saya akui? kemunafikan apa yang harus saya akui? selama ini sya berusaya menghormati dan menghargai hayati tapi malah saya dicerca.
Sebenarnya saya tidak tahu perasaan saya terhadap Gio seperti apa, saya 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar