Rabu, 14 November 2012


BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengetian karang gigi
Karang gigi atau "kalkulus" terbuat dari plak dan zat kapur yang berada di air liur. Plak sendiri terdiri dari lapisan bening di gigi ( perikel ) dan kuman. Di dalam mulut kita terdapat lebih dari 350 jenis kuman yang dapat menyebabkan karies. Jika di gigi atau sela-sela gigi terdapat banyak makanan yang tidak di bersihkan maka kuman akan mencerna makanan tersebut, lama-kelamaan akan menyebabkan karang gigi.
Karang gigi (kalkulus) merupakan suatu massa yang mengalami kalsifikasi yang terbentuk dan melekat erat pada permukaan gigi, dan objek solid lainnya di dalam mulut, misalnya restorasi dan gigi-geligi tiruan. Kalkulus ini juga dikatakan meupakan plak bakteri yang termineralisasi.
Kalkulus jarang ditemukan pada gigi susu dan tidak seing di temukan pada gigi permanaen anak usia muda. Meskipun demikian, pada anak usia 9 tahun, kalkulus sudah dapat ditemukan pada sebagian besar ongga mulut, dan pada hamper seluruh rongga mulut orang dewasa.
Berdasrkan hubungnnya dengan gingival margin, kalkulus di kelompokan menjadi dua, yaitu :
1.    Kalkulus supagingival
Kalkulus supagingival adalah kalkulus yang melekat pada permukaan mahkota gigi mulai dari puncak gingival margin dan dapt dilihat. Kalkulus ini berwarna putih kekuning-kuningan, konsistensinya keas seperti batu tanah liat dan mudah dilepaskan dari pemukaan gigi dengan skeler. Kalkulus ini banyak terdapat pada bagian bukal molar rahang atas, pada bagian lingual gigi depan rahang bawah.
2.    Kalkulus subgingival
Kalkulus subgingival adalah kalkulus yang berada di babawag batas gingival margin, biasanya pada daerah saku gusi dan tidak dapat terlihat pada waktu pemeriksaan. Untuk menentukan lokasi dan perluasannya harus dilakukan probing dengan eksplorer, biasanya padat dan keras, warnanya cokelat tua atau hijau kehitam-hitaman, konsistensinya sepeti kepala koek api, dan melekat eat pada permukaangigi.
2.2 Penyebab terjadinya karang gigi
Karang gigi biasanya berkembang dari plak gigi yang dibiarkan menempel pada tepi gusi. Plak ini dapat dibersihkan sendiri dengan mudah dengan cara rajin gosok gigi. Jadi bila kita rajin menggosok gigi dengan cara yang benar dan baik, serta memelihara kesehatan dan kebersihan mulut, biasanya karang gigi ini sulit berkembang. Kecepatan bertumpuknya karang gigi pada setiap orang berbeda-beda, jadi tidak dapat dikatakan secara rata-rata berapa kali/lama karang gigi ini harus dibersihkan.
Ada beberapa faktor yang dapat menjadi pendukung terjadinya karang gigi, anara lain :
1.    Sikat gigi yang tidak benar dan tidak teratur
2.    Kondisi pH air liur yang basa (pH tinggi) akan lebih cenderung membuat endapan air liur.
3.    Pada Penderita gagal ginjal yang memiliki kandungan amonium yang tinggi dalam air liurnya yang akan meningkatkan pH air liur sehingga membuat endapan air liur.
4.    Gigi geligi yang tidak pernah di pakai atau di gunakan untuk mengunyah juga cenderung mempunyai endapan karang gigi.
5.    Gigi geligi yang berantakan, berjejal, mengakibatkan sisa makanan tertinggal di sela-sela atau permukaan gigi.
6.    Pemakaian kawat gigi mengakibatkan sisa makanan jadi mudah menempel.

2.3 Proses tejadinya karang gigi
Penimbunan sisa makanan

 
Proses terjadinya karang gigi dapat diilustrasikan seperti dalam skema  dibawah ini :
 



Proses pembentukan karang gigi itu diawali dari proses pembentukan plak gigi terlebih dahulu. Antara plak dan karang gigi terdapat hubungan yang erat sekali.Permukaan gigi kita tidak pernah benar-benar bersih.  Setelah kita sikat gigi pun, plak bisa terbentuk lagi. Semua orang pada dasarnya akan mempunyai plak gigi. Yang menjadi masalah adalah apakah plak tersebut dibersihkan atau tidak dibersihkan. Plak gigi adalah suatu lapisan lunak yang biasanya tidak berwarna, bening, terdiri dari protein dan koloni bakteri yang biasa disebut biofilm.
Plak gigi terbentuk dari saliva (air liur) yang bergabung dengan sisa-sisa makanan dalam mulut. Saliva dalam mulut mengandung banyak sekali mikroorganisme baik maupun jahat dan jumlahnya bisa mencapai sekitar 700 bakteri. Plak yang dibiarkan selama 48 jam tanpa penyikatan gigi sama sekali akan mengalami kalsifikasi atau pengkapuran. Plak ini mengandung material organik seperti lemak, protein dan enzim serta material anorganik yaitu mineral terutama kalsium dan fosfor. “Bila tidak dibersihkan secara rutin dan benar, mineral-mineral yang berasal dari plak, saliva, dan sisa makanan tadi akan terdeposit atau mengendap sehingga lama kelamaan plak akan mengeras dan sulit dibersihkan, itulah yang menjadikan lapisan keras pada gigi yang disebut karang gigi.
Ada beberapa teori yang sudah dipekenalkan sehubungan dengan mekanisme mineralisasi awal :
1.    Saliva dapat dianggap sebagai larutan jenuh (supernaturasi) yang tidak stabil dari kalsium fosfat. Karena tegangnya CO2 relatif lebih rendah didalam mulut, CO2 akan keluar dari saliva bersma dengan deposisi kalsium fosfat yang tidak mudah larut
2.    Selama tidur, aliran saliva berkurang dan amoniak terbentuk dari urea saliva, menaikan pH yang memungkinkan terjadinya pengendapan kalsium fosfat.
3.    Protein dapat mempertahankan konsentrasi kalsium yang lebih tinggi tetapi jika saliva berkontak dengan gigi, protein akan dikeluarkan dari larutan dan menyebabkan pengendapan kalsium dan fosfor.
2.4 Perjalanan karang gigi dan akibatnya
Karang gigi timbul akibat pembentukan ‘garam’ yang disebabkan oleh bertemunya air liur yang bersifat basa dengan sisa-sisa makanan yang bersifat asam. Menurut drg. Mira, karang gigi biasanya diawali dengan proses penimbunan plak, yaitu sisa makanan yang menempel di permukaan gigi, yang lama-kelamaan mengeras menjadi karang.
Karang gigi paling sering timbul di daerah gigi depan bawah dan geraham atas kiri dan kanan karena area-area itu berdekatan dengan muara kelenjar air liur. Umumnya menempel pada daerah leher gigi, diawali dengan terbentuknya karang di bagian permukaan dalam gigi,  karang gigi lantas menjalar ke bagian depan gigi, bahkan juga bisa meluas pada gigi bagian depan atas.
Karang gigi ini menjadi tempat melekatnya kuman-kuman di dalam mulut. Selain mengganggu estetis alias keindahan ketika seseorang tersenyum atau tertawa, karang gigi juga dapat menyebabkan beberapa akibat, seperti :

1.    Gingivitis (Radang Gusi)
Permukaan karang gigi itu kasar dan berpori-pori, sementara itu gusi merupakan jaringan yang lunak. Saat gigi sedang berfungsi mengunyah, terjadilah pergesekan antara karang gigi yang kasar dengan gusi yang lunak. Pergesekan itulah yang menyebabkan gusi mudah berdarah dan kemudian meradang. Selain itu, karang gigi yang berpermukaan kasar menjadi tempat berkumpulnya bakteri unaerob yang menghasilkan enzim dan antigen yang merusak gusi. Itu jugalah yang menyebabkan gusi meradang, ditandai dengan gusi tampak lebih merah, agak membengkak (abses) dan bernanah.
2.    Gigi Goyang
Karang gigi itu sebenarnya tidak hanya berada di atas permukaan gigi saja, tapi juga bisa menjalar hingga ke dalam gusi. Kondisi ini bisa menjadi pencetus kerusakan jaringan gigi karena penumpukan karang gigi yang telah lama menempati permukaan gigi itu mendesak gusi makin ke bawah dan membuat gigi tampak memanjang. Terlebih ketika karang gigi (yang dalam tingkat parah) telah dibuang atau dibersihkan, maka karang gigi ini menyebabkan gusi turun dan memperlihatkan akar giginya. Berlanjut dari gingivitis tadi, setelah gusi itu meradang, karang gigi semakin bertambah dan menjalar ke bawah gusi. Karang gigi itu memutuskan serabut-serabut pengikat antara gigi dengan tulang soket gigi. Karena terputusnya serabut-serabut pengikat tersebut, gigi akan menjadi goyang.
3.    Karies (Gigi Berlubang)
Plak yang kemudian menjadi karang gigi itu menyebabkan suasana asam karena bakteri yang ada di dalam mulut merubah sisa makanan menjadi asam. Asam ini menyebabkan demineralisasi, jadi mineral-mineral yang ada di permukaan gigi seperti kalsium dan fosfor akan keluar. Setelah itu struktur giginya akan menjadi rapuh. Diawali warna keputih-pitihan, kekuning-kuningan hingga kecoklatan berlubang.
4.    Halitosis (Bau Mulut)
Karena karang gigi permukaannya kasar, ia mudah sekali menyerap bahan makanan atau minuman yang masuk ke dalam mulut kita. Penempelan sisa-sisa makanan itulah yang kemudian membusuk dan menyebabkan halitosis.
2.5 Cara mencegah terjadinya karang gigi
Karang gigi juga dapat dicegah agar tidak muncul pada gigi, dibawah ini beberapa langkah untuk mencegah karang gigi:
1.    Menyikat gigi atau membersihkan gigi untuk menghilangkan plak dengan benar dan teratur minimal 2 kali sehari (pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur.
2.    Makan makanan yang berserat seperti sayur dan buah karena makanan ini bersifat self cleansing (pembersihan) yang membutuhkan proses pengunyahan secara berulang-ulang.
3.    Makan makanan yang mengandung gizi seimbang untuk meningkatkan daya tahan tubuh.
4.    Banyak minum air putih
5.    Kurangi minuman kopi, teh, soda dan serta berhenti merokok yang dapat menimbulkan lapisan tipis dipermukaan gigi yang disebut stain sehingga warna gigi jadi kusam, kecoklat-coklatan. Lapisan stain yang kasar itu mudah ditempeli sisa-sisa makanan dan kuman, yang akhirnya membentuk plak, jika tidak dibersihkan akan mengeras dan menjadi karang gigi dan bisa merambat ke akar gigi. Akibatnya gigi mudah berdarah, gigi gampang goyah dan mudah tanggal.
6.    Mengurangi konsumsi makanan yang mengandung gula dan tepung
7.    Membersihkan sela-sela diantara gigi dengan benang gigi (dental floss)
8.    Pemakaian obat kumur anti bakteri untuk mengurangi bakteri di dalam mulut,misalnya dengan menggunakan obat kumur yang mengandung Chlorhexidine
9.    Pijat gusi dengan menggunakan dental water jet
10. Berhenti Merokok
11. Kontrol ke dokter gigi 6 bulan sekali untuk membersihkan karang gigi (scalling)

 BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengetian karang gigi
Karang gigi atau "kalkulus" terbuat dari plak dan zat kapur yang berada di air liur. Plak sendiri terdiri dari lapisan bening di gigi ( perikel ) dan kuman. Di dalam mulut kita terdapat lebih dari 350 jenis kuman yang dapat menyebabkan karies. Jika di gigi atau sela-sela gigi terdapat banyak makanan yang tidak di bersihkan maka kuman akan mencerna makanan tersebut, lama-kelamaan akan menyebabkan karang gigi.
Karang gigi (kalkulus) merupakan suatu massa yang mengalami kalsifikasi yang terbentuk dan melekat erat pada permukaan gigi, dan objek solid lainnya di dalam mulut, misalnya restorasi dan gigi-geligi tiruan. Kalkulus ini juga dikatakan meupakan plak bakteri yang termineralisasi.
Kalkulus jarang ditemukan pada gigi susu dan tidak seing di temukan pada gigi permanaen anak usia muda. Meskipun demikian, pada anak usia 9 tahun, kalkulus sudah dapat ditemukan pada sebagian besar ongga mulut, dan pada hamper seluruh rongga mulut orang dewasa.
Berdasrkan hubungnnya dengan gingival margin, kalkulus di kelompokan menjadi dua, yaitu :
1.    Kalkulus supagingival
Kalkulus supagingival adalah kalkulus yang melekat pada permukaan mahkota gigi mulai dari puncak gingival margin dan dapt dilihat. Kalkulus ini berwarna putih kekuning-kuningan, konsistensinya keas seperti batu tanah liat dan mudah dilepaskan dari pemukaan gigi dengan skeler. Kalkulus ini banyak terdapat pada bagian bukal molar rahang atas, pada bagian lingual gigi depan rahang bawah.
2.    Kalkulus subgingival
Kalkulus subgingival adalah kalkulus yang berada di babawag batas gingival margin, biasanya pada daerah saku gusi dan tidak dapat terlihat pada waktu pemeriksaan. Untuk menentukan lokasi dan perluasannya harus dilakukan probing dengan eksplorer, biasanya padat dan keras, warnanya cokelat tua atau hijau kehitam-hitaman, konsistensinya sepeti kepala koek api, dan melekat eat pada permukaangigi.
2.2 Penyebab terjadinya karang gigi
Karang gigi biasanya berkembang dari plak gigi yang dibiarkan menempel pada tepi gusi. Plak ini dapat dibersihkan sendiri dengan mudah dengan cara rajin gosok gigi. Jadi bila kita rajin menggosok gigi dengan cara yang benar dan baik, serta memelihara kesehatan dan kebersihan mulut, biasanya karang gigi ini sulit berkembang. Kecepatan bertumpuknya karang gigi pada setiap orang berbeda-beda, jadi tidak dapat dikatakan secara rata-rata berapa kali/lama karang gigi ini harus dibersihkan.
Ada beberapa faktor yang dapat menjadi pendukung terjadinya karang gigi, anara lain :
1.    Sikat gigi yang tidak benar dan tidak teratur
2.    Kondisi pH air liur yang basa (pH tinggi) akan lebih cenderung membuat endapan air liur.
3.    Pada Penderita gagal ginjal yang memiliki kandungan amonium yang tinggi dalam air liurnya yang akan meningkatkan pH air liur sehingga membuat endapan air liur.
4.    Gigi geligi yang tidak pernah di pakai atau di gunakan untuk mengunyah juga cenderung mempunyai endapan karang gigi.
5.    Gigi geligi yang berantakan, berjejal, mengakibatkan sisa makanan tertinggal di sela-sela atau permukaan gigi.
6.    Pemakaian kawat gigi mengakibatkan sisa makanan jadi mudah menempel.

2.3 Proses tejadinya karang gigi
Penimbunan sisa makanan

 
Proses terjadinya karang gigi dapat diilustrasikan seperti dalam skema  dibawah ini :
 



Proses pembentukan karang gigi itu diawali dari proses pembentukan plak gigi terlebih dahulu. Antara plak dan karang gigi terdapat hubungan yang erat sekali.Permukaan gigi kita tidak pernah benar-benar bersih.  Setelah kita sikat gigi pun, plak bisa terbentuk lagi. Semua orang pada dasarnya akan mempunyai plak gigi. Yang menjadi masalah adalah apakah plak tersebut dibersihkan atau tidak dibersihkan. Plak gigi adalah suatu lapisan lunak yang biasanya tidak berwarna, bening, terdiri dari protein dan koloni bakteri yang biasa disebut biofilm.
Plak gigi terbentuk dari saliva (air liur) yang bergabung dengan sisa-sisa makanan dalam mulut. Saliva dalam mulut mengandung banyak sekali mikroorganisme baik maupun jahat dan jumlahnya bisa mencapai sekitar 700 bakteri. Plak yang dibiarkan selama 48 jam tanpa penyikatan gigi sama sekali akan mengalami kalsifikasi atau pengkapuran. Plak ini mengandung material organik seperti lemak, protein dan enzim serta material anorganik yaitu mineral terutama kalsium dan fosfor. “Bila tidak dibersihkan secara rutin dan benar, mineral-mineral yang berasal dari plak, saliva, dan sisa makanan tadi akan terdeposit atau mengendap sehingga lama kelamaan plak akan mengeras dan sulit dibersihkan, itulah yang menjadikan lapisan keras pada gigi yang disebut karang gigi.
Ada beberapa teori yang sudah dipekenalkan sehubungan dengan mekanisme mineralisasi awal :
1.    Saliva dapat dianggap sebagai larutan jenuh (supernaturasi) yang tidak stabil dari kalsium fosfat. Karena tegangnya CO2 relatif lebih rendah didalam mulut, CO2 akan keluar dari saliva bersma dengan deposisi kalsium fosfat yang tidak mudah larut
2.    Selama tidur, aliran saliva berkurang dan amoniak terbentuk dari urea saliva, menaikan pH yang memungkinkan terjadinya pengendapan kalsium fosfat.
3.    Protein dapat mempertahankan konsentrasi kalsium yang lebih tinggi tetapi jika saliva berkontak dengan gigi, protein akan dikeluarkan dari larutan dan menyebabkan pengendapan kalsium dan fosfor.
2.4 Perjalanan karang gigi dan akibatnya
Karang gigi timbul akibat pembentukan ‘garam’ yang disebabkan oleh bertemunya air liur yang bersifat basa dengan sisa-sisa makanan yang bersifat asam. Menurut drg. Mira, karang gigi biasanya diawali dengan proses penimbunan plak, yaitu sisa makanan yang menempel di permukaan gigi, yang lama-kelamaan mengeras menjadi karang.
Karang gigi paling sering timbul di daerah gigi depan bawah dan geraham atas kiri dan kanan karena area-area itu berdekatan dengan muara kelenjar air liur. Umumnya menempel pada daerah leher gigi, diawali dengan terbentuknya karang di bagian permukaan dalam gigi,  karang gigi lantas menjalar ke bagian depan gigi, bahkan juga bisa meluas pada gigi bagian depan atas.
Karang gigi ini menjadi tempat melekatnya kuman-kuman di dalam mulut. Selain mengganggu estetis alias keindahan ketika seseorang tersenyum atau tertawa, karang gigi juga dapat menyebabkan beberapa akibat, seperti :

1.    Gingivitis (Radang Gusi)
Permukaan karang gigi itu kasar dan berpori-pori, sementara itu gusi merupakan jaringan yang lunak. Saat gigi sedang berfungsi mengunyah, terjadilah pergesekan antara karang gigi yang kasar dengan gusi yang lunak. Pergesekan itulah yang menyebabkan gusi mudah berdarah dan kemudian meradang. Selain itu, karang gigi yang berpermukaan kasar menjadi tempat berkumpulnya bakteri unaerob yang menghasilkan enzim dan antigen yang merusak gusi. Itu jugalah yang menyebabkan gusi meradang, ditandai dengan gusi tampak lebih merah, agak membengkak (abses) dan bernanah.
2.    Gigi Goyang
Karang gigi itu sebenarnya tidak hanya berada di atas permukaan gigi saja, tapi juga bisa menjalar hingga ke dalam gusi. Kondisi ini bisa menjadi pencetus kerusakan jaringan gigi karena penumpukan karang gigi yang telah lama menempati permukaan gigi itu mendesak gusi makin ke bawah dan membuat gigi tampak memanjang. Terlebih ketika karang gigi (yang dalam tingkat parah) telah dibuang atau dibersihkan, maka karang gigi ini menyebabkan gusi turun dan memperlihatkan akar giginya. Berlanjut dari gingivitis tadi, setelah gusi itu meradang, karang gigi semakin bertambah dan menjalar ke bawah gusi. Karang gigi itu memutuskan serabut-serabut pengikat antara gigi dengan tulang soket gigi. Karena terputusnya serabut-serabut pengikat tersebut, gigi akan menjadi goyang.
3.    Karies (Gigi Berlubang)
Plak yang kemudian menjadi karang gigi itu menyebabkan suasana asam karena bakteri yang ada di dalam mulut merubah sisa makanan menjadi asam. Asam ini menyebabkan demineralisasi, jadi mineral-mineral yang ada di permukaan gigi seperti kalsium dan fosfor akan keluar. Setelah itu struktur giginya akan menjadi rapuh. Diawali warna keputih-pitihan, kekuning-kuningan hingga kecoklatan berlubang.
4.    Halitosis (Bau Mulut)
Karena karang gigi permukaannya kasar, ia mudah sekali menyerap bahan makanan atau minuman yang masuk ke dalam mulut kita. Penempelan sisa-sisa makanan itulah yang kemudian membusuk dan menyebabkan halitosis.
2.5 Cara mencegah terjadinya karang gigi
Karang gigi juga dapat dicegah agar tidak muncul pada gigi, dibawah ini beberapa langkah untuk mencegah karang gigi:
1.    Menyikat gigi atau membersihkan gigi untuk menghilangkan plak dengan benar dan teratur minimal 2 kali sehari (pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur.
2.    Makan makanan yang berserat seperti sayur dan buah karena makanan ini bersifat self cleansing (pembersihan) yang membutuhkan proses pengunyahan secara berulang-ulang.
3.    Makan makanan yang mengandung gizi seimbang untuk meningkatkan daya tahan tubuh.
4.    Banyak minum air putih
5.    Kurangi minuman kopi, teh, soda dan serta berhenti merokok yang dapat menimbulkan lapisan tipis dipermukaan gigi yang disebut stain sehingga warna gigi jadi kusam, kecoklat-coklatan. Lapisan stain yang kasar itu mudah ditempeli sisa-sisa makanan dan kuman, yang akhirnya membentuk plak, jika tidak dibersihkan akan mengeras dan menjadi karang gigi dan bisa merambat ke akar gigi. Akibatnya gigi mudah berdarah, gigi gampang goyah dan mudah tanggal.
6.    Mengurangi konsumsi makanan yang mengandung gula dan tepung
7.    Membersihkan sela-sela diantara gigi dengan benang gigi (dental floss)
8.    Pemakaian obat kumur anti bakteri untuk mengurangi bakteri di dalam mulut,misalnya dengan menggunakan obat kumur yang mengandung Chlorhexidine
9.    Pijat gusi dengan menggunakan dental water jet
1. Berhenti Merokok
1. Kontrol ke dokter gigi 6 bulan sekali untuk membersihkan karang gigi (scalling)