BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengetian karang gigi
Karang gigi atau "kalkulus" terbuat dari plak dan zat kapur
yang berada di air liur. Plak sendiri terdiri dari lapisan bening di gigi (
perikel ) dan kuman. Di dalam mulut kita terdapat lebih dari 350 jenis kuman
yang dapat menyebabkan karies. Jika di gigi atau sela-sela gigi terdapat banyak
makanan yang tidak di bersihkan maka kuman akan mencerna makanan tersebut,
lama-kelamaan akan menyebabkan karang gigi.
Karang gigi (kalkulus) merupakan
suatu massa yang mengalami kalsifikasi yang terbentuk dan melekat erat pada
permukaan gigi, dan objek solid lainnya di dalam mulut, misalnya restorasi dan
gigi-geligi tiruan. Kalkulus ini juga dikatakan meupakan plak bakteri yang
termineralisasi.
Kalkulus jarang ditemukan pada gigi
susu dan tidak seing di temukan pada gigi permanaen anak usia muda. Meskipun
demikian, pada anak usia 9 tahun, kalkulus sudah dapat ditemukan pada sebagian
besar ongga mulut, dan pada hamper seluruh rongga mulut orang dewasa.
Berdasrkan hubungnnya dengan gingival
margin, kalkulus di kelompokan menjadi dua, yaitu :
1.
Kalkulus supagingival
Kalkulus supagingival adalah kalkulus yang
melekat pada permukaan mahkota gigi mulai dari puncak gingival margin dan dapt
dilihat. Kalkulus ini berwarna putih kekuning-kuningan, konsistensinya keas
seperti batu tanah liat dan mudah dilepaskan dari pemukaan gigi dengan skeler.
Kalkulus ini banyak terdapat pada bagian bukal molar rahang atas, pada bagian
lingual gigi depan rahang bawah.
2.
Kalkulus subgingival
Kalkulus subgingival adalah kalkulus yang berada
di babawag batas gingival margin, biasanya pada daerah saku gusi dan tidak
dapat terlihat pada waktu pemeriksaan. Untuk menentukan lokasi dan perluasannya
harus dilakukan probing dengan eksplorer, biasanya padat dan keras, warnanya
cokelat tua atau hijau kehitam-hitaman, konsistensinya sepeti kepala koek api,
dan melekat eat pada permukaangigi.
2.2 Penyebab terjadinya karang gigi
Karang gigi biasanya
berkembang dari plak gigi yang dibiarkan menempel pada tepi gusi. Plak ini
dapat dibersihkan sendiri dengan mudah dengan cara rajin gosok gigi. Jadi bila
kita rajin menggosok gigi dengan cara yang benar dan baik, serta memelihara
kesehatan dan kebersihan mulut, biasanya karang gigi ini sulit berkembang.
Kecepatan bertumpuknya karang gigi pada setiap orang berbeda-beda, jadi tidak
dapat dikatakan secara rata-rata berapa kali/lama karang gigi ini harus
dibersihkan.
Ada beberapa faktor yang dapat menjadi pendukung terjadinya karang gigi,
anara lain :
1.
Sikat gigi yang tidak benar dan
tidak teratur
2.
Kondisi pH air liur yang basa (pH
tinggi) akan lebih cenderung membuat endapan air liur.
3.
Pada Penderita gagal ginjal yang
memiliki kandungan amonium yang tinggi dalam air liurnya yang akan meningkatkan
pH air liur sehingga membuat endapan air liur.
4.
Gigi geligi yang tidak pernah di
pakai atau di gunakan untuk mengunyah juga cenderung mempunyai endapan karang
gigi.
5.
Gigi geligi yang berantakan,
berjejal, mengakibatkan sisa makanan tertinggal di sela-sela atau permukaan
gigi.
6.
Pemakaian kawat gigi
mengakibatkan sisa makanan jadi mudah menempel.
2.3 Proses tejadinya karang gigi
Proses terjadinya
karang gigi dapat diilustrasikan seperti dalam skema dibawah ini :
Proses
pembentukan karang gigi itu diawali dari proses pembentukan plak gigi terlebih
dahulu. Antara plak dan karang gigi terdapat hubungan yang erat
sekali.Permukaan gigi kita tidak pernah benar-benar bersih. Setelah
kita sikat gigi pun, plak bisa terbentuk lagi. Semua orang pada dasarnya akan
mempunyai plak gigi. Yang menjadi masalah adalah apakah plak tersebut dibersihkan
atau tidak dibersihkan. Plak gigi adalah suatu lapisan lunak yang
biasanya tidak berwarna, bening, terdiri dari protein dan koloni bakteri yang
biasa disebut biofilm.
Plak
gigi terbentuk dari saliva (air liur) yang bergabung dengan sisa-sisa makanan
dalam mulut. Saliva dalam mulut mengandung banyak sekali mikroorganisme baik
maupun jahat dan jumlahnya bisa mencapai sekitar 700 bakteri. Plak yang
dibiarkan selama 48 jam tanpa penyikatan gigi sama sekali akan mengalami
kalsifikasi atau pengkapuran. Plak ini mengandung material organik seperti
lemak, protein dan enzim serta material anorganik yaitu mineral terutama
kalsium dan fosfor. “Bila tidak dibersihkan secara rutin dan benar,
mineral-mineral yang berasal dari plak, saliva, dan sisa makanan tadi akan
terdeposit atau mengendap sehingga lama kelamaan plak akan mengeras dan sulit
dibersihkan, itulah yang menjadikan lapisan keras pada gigi yang disebut karang
gigi.
Ada beberapa teori yang sudah
dipekenalkan sehubungan dengan mekanisme mineralisasi awal :
1.
Saliva dapat dianggap sebagai larutan jenuh
(supernaturasi) yang tidak stabil dari kalsium fosfat. Karena tegangnya CO2
relatif lebih rendah didalam mulut, CO2 akan keluar dari saliva
bersma dengan deposisi kalsium fosfat yang tidak mudah larut
2.
Selama tidur, aliran saliva berkurang dan amoniak
terbentuk dari urea saliva, menaikan pH yang memungkinkan terjadinya
pengendapan kalsium fosfat.
3.
Protein dapat mempertahankan konsentrasi kalsium yang
lebih tinggi tetapi jika saliva berkontak dengan gigi, protein akan dikeluarkan
dari larutan dan menyebabkan pengendapan kalsium dan fosfor.
2.4 Perjalanan karang gigi dan akibatnya
Karang
gigi timbul akibat pembentukan ‘garam’ yang disebabkan oleh bertemunya air liur
yang bersifat basa dengan sisa-sisa makanan yang bersifat asam. Menurut drg.
Mira, karang gigi biasanya diawali dengan proses penimbunan plak, yaitu sisa
makanan yang menempel di permukaan gigi, yang lama-kelamaan mengeras menjadi
karang.
Karang
gigi paling sering timbul di daerah gigi depan bawah dan geraham atas kiri dan
kanan karena area-area itu berdekatan dengan muara kelenjar air liur. Umumnya
menempel pada daerah leher gigi, diawali dengan terbentuknya karang di bagian
permukaan dalam gigi, karang gigi lantas menjalar ke bagian depan gigi,
bahkan juga bisa meluas pada gigi bagian depan atas.
Karang
gigi ini menjadi tempat melekatnya kuman-kuman di dalam mulut. Selain
mengganggu estetis alias keindahan ketika seseorang tersenyum atau tertawa, karang gigi juga dapat
menyebabkan beberapa akibat, seperti :
1.
Gingivitis
(Radang Gusi)
Permukaan karang gigi itu kasar dan berpori-pori,
sementara itu gusi merupakan jaringan yang lunak. Saat gigi sedang berfungsi
mengunyah, terjadilah pergesekan antara karang gigi yang kasar dengan gusi yang
lunak. Pergesekan itulah yang menyebabkan gusi mudah berdarah dan kemudian
meradang. Selain itu, karang gigi yang berpermukaan kasar menjadi tempat
berkumpulnya bakteri unaerob yang menghasilkan enzim dan antigen yang merusak
gusi. Itu jugalah yang menyebabkan gusi meradang, ditandai dengan gusi tampak
lebih merah, agak membengkak (abses) dan bernanah.
2.
Gigi Goyang
Karang gigi itu sebenarnya tidak hanya berada di
atas permukaan gigi saja, tapi juga bisa menjalar hingga ke dalam gusi. Kondisi
ini bisa menjadi pencetus kerusakan jaringan gigi karena penumpukan karang gigi
yang telah lama menempati permukaan gigi itu mendesak gusi makin ke bawah dan
membuat gigi tampak memanjang. Terlebih ketika karang gigi (yang dalam tingkat
parah) telah dibuang atau dibersihkan, maka karang gigi ini menyebabkan gusi
turun dan memperlihatkan akar giginya. Berlanjut dari gingivitis tadi, setelah
gusi itu meradang, karang gigi semakin bertambah dan menjalar ke bawah gusi.
Karang gigi itu memutuskan serabut-serabut pengikat antara gigi dengan tulang
soket gigi. Karena terputusnya serabut-serabut pengikat tersebut, gigi akan
menjadi goyang.
3.
Karies (Gigi
Berlubang)
Plak yang kemudian menjadi karang gigi itu
menyebabkan suasana asam karena bakteri yang ada di dalam mulut merubah sisa
makanan menjadi asam. Asam ini menyebabkan demineralisasi, jadi mineral-mineral
yang ada di permukaan gigi seperti kalsium dan fosfor akan keluar. Setelah itu
struktur giginya akan menjadi rapuh. Diawali warna keputih-pitihan,
kekuning-kuningan hingga kecoklatan berlubang.
4.
Halitosis (Bau
Mulut)
Karena karang gigi permukaannya kasar, ia mudah sekali
menyerap bahan makanan atau minuman yang masuk ke dalam mulut kita. Penempelan
sisa-sisa makanan itulah yang kemudian membusuk dan menyebabkan halitosis.
2.5 Cara mencegah terjadinya karang gigi
Karang
gigi juga dapat dicegah
agar tidak muncul pada gigi, dibawah ini beberapa langkah untuk mencegah karang
gigi:
1. Menyikat gigi atau membersihkan gigi untuk menghilangkan plak
dengan benar dan teratur minimal 2 kali sehari (pagi setelah sarapan dan malam
sebelum tidur.
2. Makan makanan yang berserat seperti sayur dan buah karena makanan
ini bersifat self cleansing (pembersihan) yang membutuhkan proses pengunyahan
secara berulang-ulang.
3. Makan makanan yang mengandung gizi seimbang untuk meningkatkan
daya tahan tubuh.
4. Banyak minum air putih
5. Kurangi minuman kopi, teh, soda dan serta berhenti merokok yang
dapat menimbulkan lapisan tipis dipermukaan gigi yang disebut stain sehingga
warna gigi jadi kusam, kecoklat-coklatan. Lapisan stain yang kasar itu mudah
ditempeli sisa-sisa makanan dan kuman, yang akhirnya membentuk plak, jika tidak
dibersihkan akan mengeras dan menjadi karang gigi dan bisa merambat ke akar
gigi. Akibatnya gigi mudah berdarah, gigi gampang goyah dan mudah tanggal.
6. Mengurangi konsumsi makanan yang mengandung gula dan tepung
7. Membersihkan sela-sela diantara gigi dengan benang gigi (dental
floss)
8. Pemakaian obat kumur anti bakteri untuk mengurangi bakteri di
dalam mulut,misalnya dengan menggunakan obat kumur yang mengandung
Chlorhexidine
9. Pijat gusi dengan menggunakan dental water jet
10. Berhenti Merokok
11. Kontrol ke dokter gigi 6 bulan sekali untuk membersihkan karang
gigi (scalling)
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengetian karang gigi
Karang gigi atau "kalkulus" terbuat dari plak dan zat kapur
yang berada di air liur. Plak sendiri terdiri dari lapisan bening di gigi (
perikel ) dan kuman. Di dalam mulut kita terdapat lebih dari 350 jenis kuman
yang dapat menyebabkan karies. Jika di gigi atau sela-sela gigi terdapat banyak
makanan yang tidak di bersihkan maka kuman akan mencerna makanan tersebut,
lama-kelamaan akan menyebabkan karang gigi.
Karang gigi (kalkulus) merupakan
suatu massa yang mengalami kalsifikasi yang terbentuk dan melekat erat pada
permukaan gigi, dan objek solid lainnya di dalam mulut, misalnya restorasi dan
gigi-geligi tiruan. Kalkulus ini juga dikatakan meupakan plak bakteri yang
termineralisasi.
Kalkulus jarang ditemukan pada gigi
susu dan tidak seing di temukan pada gigi permanaen anak usia muda. Meskipun
demikian, pada anak usia 9 tahun, kalkulus sudah dapat ditemukan pada sebagian
besar ongga mulut, dan pada hamper seluruh rongga mulut orang dewasa.
Berdasrkan hubungnnya dengan gingival
margin, kalkulus di kelompokan menjadi dua, yaitu :
1.
Kalkulus supagingival
Kalkulus supagingival adalah kalkulus yang
melekat pada permukaan mahkota gigi mulai dari puncak gingival margin dan dapt
dilihat. Kalkulus ini berwarna putih kekuning-kuningan, konsistensinya keas
seperti batu tanah liat dan mudah dilepaskan dari pemukaan gigi dengan skeler.
Kalkulus ini banyak terdapat pada bagian bukal molar rahang atas, pada bagian
lingual gigi depan rahang bawah.
2.
Kalkulus subgingival
Kalkulus subgingival adalah kalkulus yang berada
di babawag batas gingival margin, biasanya pada daerah saku gusi dan tidak
dapat terlihat pada waktu pemeriksaan. Untuk menentukan lokasi dan perluasannya
harus dilakukan probing dengan eksplorer, biasanya padat dan keras, warnanya
cokelat tua atau hijau kehitam-hitaman, konsistensinya sepeti kepala koek api,
dan melekat eat pada permukaangigi.
2.2 Penyebab terjadinya karang gigi
Karang gigi biasanya
berkembang dari plak gigi yang dibiarkan menempel pada tepi gusi. Plak ini
dapat dibersihkan sendiri dengan mudah dengan cara rajin gosok gigi. Jadi bila
kita rajin menggosok gigi dengan cara yang benar dan baik, serta memelihara
kesehatan dan kebersihan mulut, biasanya karang gigi ini sulit berkembang.
Kecepatan bertumpuknya karang gigi pada setiap orang berbeda-beda, jadi tidak
dapat dikatakan secara rata-rata berapa kali/lama karang gigi ini harus
dibersihkan.
Ada beberapa faktor yang dapat menjadi pendukung terjadinya karang gigi,
anara lain :
1.
Sikat gigi yang tidak benar dan
tidak teratur
2.
Kondisi pH air liur yang basa (pH
tinggi) akan lebih cenderung membuat endapan air liur.
3.
Pada Penderita gagal ginjal yang
memiliki kandungan amonium yang tinggi dalam air liurnya yang akan meningkatkan
pH air liur sehingga membuat endapan air liur.
4.
Gigi geligi yang tidak pernah di
pakai atau di gunakan untuk mengunyah juga cenderung mempunyai endapan karang
gigi.
5.
Gigi geligi yang berantakan,
berjejal, mengakibatkan sisa makanan tertinggal di sela-sela atau permukaan
gigi.
6.
Pemakaian kawat gigi
mengakibatkan sisa makanan jadi mudah menempel.
2.3 Proses tejadinya karang gigi
Proses terjadinya
karang gigi dapat diilustrasikan seperti dalam skema dibawah ini :
Proses
pembentukan karang gigi itu diawali dari proses pembentukan plak gigi terlebih
dahulu. Antara plak dan karang gigi terdapat hubungan yang erat
sekali.Permukaan gigi kita tidak pernah benar-benar bersih. Setelah
kita sikat gigi pun, plak bisa terbentuk lagi. Semua orang pada dasarnya akan
mempunyai plak gigi. Yang menjadi masalah adalah apakah plak tersebut dibersihkan
atau tidak dibersihkan. Plak gigi adalah suatu lapisan lunak yang
biasanya tidak berwarna, bening, terdiri dari protein dan koloni bakteri yang
biasa disebut biofilm.
Plak
gigi terbentuk dari saliva (air liur) yang bergabung dengan sisa-sisa makanan
dalam mulut. Saliva dalam mulut mengandung banyak sekali mikroorganisme baik
maupun jahat dan jumlahnya bisa mencapai sekitar 700 bakteri. Plak yang
dibiarkan selama 48 jam tanpa penyikatan gigi sama sekali akan mengalami
kalsifikasi atau pengkapuran. Plak ini mengandung material organik seperti
lemak, protein dan enzim serta material anorganik yaitu mineral terutama
kalsium dan fosfor. “Bila tidak dibersihkan secara rutin dan benar,
mineral-mineral yang berasal dari plak, saliva, dan sisa makanan tadi akan
terdeposit atau mengendap sehingga lama kelamaan plak akan mengeras dan sulit
dibersihkan, itulah yang menjadikan lapisan keras pada gigi yang disebut karang
gigi.
Ada beberapa teori yang sudah
dipekenalkan sehubungan dengan mekanisme mineralisasi awal :
1.
Saliva dapat dianggap sebagai larutan jenuh
(supernaturasi) yang tidak stabil dari kalsium fosfat. Karena tegangnya CO2
relatif lebih rendah didalam mulut, CO2 akan keluar dari saliva
bersma dengan deposisi kalsium fosfat yang tidak mudah larut
2.
Selama tidur, aliran saliva berkurang dan amoniak
terbentuk dari urea saliva, menaikan pH yang memungkinkan terjadinya
pengendapan kalsium fosfat.
3.
Protein dapat mempertahankan konsentrasi kalsium yang
lebih tinggi tetapi jika saliva berkontak dengan gigi, protein akan dikeluarkan
dari larutan dan menyebabkan pengendapan kalsium dan fosfor.
2.4 Perjalanan karang gigi dan akibatnya
Karang
gigi timbul akibat pembentukan ‘garam’ yang disebabkan oleh bertemunya air liur
yang bersifat basa dengan sisa-sisa makanan yang bersifat asam. Menurut drg.
Mira, karang gigi biasanya diawali dengan proses penimbunan plak, yaitu sisa
makanan yang menempel di permukaan gigi, yang lama-kelamaan mengeras menjadi
karang.
Karang
gigi paling sering timbul di daerah gigi depan bawah dan geraham atas kiri dan
kanan karena area-area itu berdekatan dengan muara kelenjar air liur. Umumnya
menempel pada daerah leher gigi, diawali dengan terbentuknya karang di bagian
permukaan dalam gigi, karang gigi lantas menjalar ke bagian depan gigi,
bahkan juga bisa meluas pada gigi bagian depan atas.
Karang
gigi ini menjadi tempat melekatnya kuman-kuman di dalam mulut. Selain
mengganggu estetis alias keindahan ketika seseorang tersenyum atau tertawa, karang gigi juga dapat
menyebabkan beberapa akibat, seperti :
1.
Gingivitis
(Radang Gusi)
Permukaan karang gigi itu kasar dan berpori-pori,
sementara itu gusi merupakan jaringan yang lunak. Saat gigi sedang berfungsi
mengunyah, terjadilah pergesekan antara karang gigi yang kasar dengan gusi yang
lunak. Pergesekan itulah yang menyebabkan gusi mudah berdarah dan kemudian
meradang. Selain itu, karang gigi yang berpermukaan kasar menjadi tempat
berkumpulnya bakteri unaerob yang menghasilkan enzim dan antigen yang merusak
gusi. Itu jugalah yang menyebabkan gusi meradang, ditandai dengan gusi tampak
lebih merah, agak membengkak (abses) dan bernanah.
2.
Gigi Goyang
Karang gigi itu sebenarnya tidak hanya berada di
atas permukaan gigi saja, tapi juga bisa menjalar hingga ke dalam gusi. Kondisi
ini bisa menjadi pencetus kerusakan jaringan gigi karena penumpukan karang gigi
yang telah lama menempati permukaan gigi itu mendesak gusi makin ke bawah dan
membuat gigi tampak memanjang. Terlebih ketika karang gigi (yang dalam tingkat
parah) telah dibuang atau dibersihkan, maka karang gigi ini menyebabkan gusi
turun dan memperlihatkan akar giginya. Berlanjut dari gingivitis tadi, setelah
gusi itu meradang, karang gigi semakin bertambah dan menjalar ke bawah gusi.
Karang gigi itu memutuskan serabut-serabut pengikat antara gigi dengan tulang
soket gigi. Karena terputusnya serabut-serabut pengikat tersebut, gigi akan
menjadi goyang.
3.
Karies (Gigi
Berlubang)
Plak yang kemudian menjadi karang gigi itu
menyebabkan suasana asam karena bakteri yang ada di dalam mulut merubah sisa
makanan menjadi asam. Asam ini menyebabkan demineralisasi, jadi mineral-mineral
yang ada di permukaan gigi seperti kalsium dan fosfor akan keluar. Setelah itu
struktur giginya akan menjadi rapuh. Diawali warna keputih-pitihan,
kekuning-kuningan hingga kecoklatan berlubang.
4.
Halitosis (Bau
Mulut)
Karena karang gigi permukaannya kasar, ia mudah sekali
menyerap bahan makanan atau minuman yang masuk ke dalam mulut kita. Penempelan
sisa-sisa makanan itulah yang kemudian membusuk dan menyebabkan halitosis.
2.5 Cara mencegah terjadinya karang gigi
Karang
gigi juga dapat dicegah
agar tidak muncul pada gigi, dibawah ini beberapa langkah untuk mencegah karang
gigi:
1. Menyikat gigi atau membersihkan gigi untuk menghilangkan plak
dengan benar dan teratur minimal 2 kali sehari (pagi setelah sarapan dan malam
sebelum tidur.
2. Makan makanan yang berserat seperti sayur dan buah karena makanan
ini bersifat self cleansing (pembersihan) yang membutuhkan proses pengunyahan
secara berulang-ulang.
3. Makan makanan yang mengandung gizi seimbang untuk meningkatkan
daya tahan tubuh.
4. Banyak minum air putih
5. Kurangi minuman kopi, teh, soda dan serta berhenti merokok yang
dapat menimbulkan lapisan tipis dipermukaan gigi yang disebut stain sehingga
warna gigi jadi kusam, kecoklat-coklatan. Lapisan stain yang kasar itu mudah
ditempeli sisa-sisa makanan dan kuman, yang akhirnya membentuk plak, jika tidak
dibersihkan akan mengeras dan menjadi karang gigi dan bisa merambat ke akar
gigi. Akibatnya gigi mudah berdarah, gigi gampang goyah dan mudah tanggal.
6. Mengurangi konsumsi makanan yang mengandung gula dan tepung
7. Membersihkan sela-sela diantara gigi dengan benang gigi (dental
floss)
8. Pemakaian obat kumur anti bakteri untuk mengurangi bakteri di
dalam mulut,misalnya dengan menggunakan obat kumur yang mengandung
Chlorhexidine
9. Pijat gusi dengan menggunakan dental water jet
1. Berhenti Merokok
1. Kontrol ke dokter gigi 6 bulan sekali untuk membersihkan karang
gigi (scalling)